Let's join to open trip program
pendaki wanita indonesia

Travelustory

GO OUT & EXPLORE!

People getting engaged, married, and having babies
I'm like... What places I'am going to the next?

Mountains

Lahir dan besar di pedesaan membuat saya akrab dengan alam. Berawal sejak usia SD saya sering ikut kakak blusukan ke air terjun tak jauh dari desa kelahiran saya. Kala itu awal 90an, dimana perbukitan masih asri dengan Siamang bebas berkeliaran dan rusa sering terlihat mampir di sungai untuk minum. Saya pun sangat menikmati berjalan kaki beberapa kilometer menyibak belukar, menanjak perbukitan untuk mencapai sebuah air terjun ditengah hutan yang rimbun. Dan ternyata, hobi blusukan di alam itu telah berakar dijiwa saya, sehingga sulit rasanya melewati beberapa bulan hidup tanpa bersinggung langsung dengan alam. Hasrat menghirup udara beroksigen murni dan melihat kekayaan flora fauna dari dekat itulah yang membuat saya rajin naik turun gunung dan keluar masuk hutan.

Story of My Journeys

Mendaki Ijen

Mount Ijen

Sampai di puncak Ijen, kami disarankan untuk memakai masker ala penjinak bom di film-film (bukan masker dokter) karena asap belerang yang pekat dapat berbahaya bagi yang tidak kuat menghirupnya. Kami melanjutkan sisa 800m perjalanan menuruni kawah dengan trek yang cukup ekstrim berbatu, menuju ke jantung kawah dimana kami dapat menyaksikan Blue Fire. Nah di trek ini, Given baru di gendong, karena medan nya sangat berbahaya bagi anak-anak, yang sebenarnya sangat tidak disarankan untuk ikut turun ke kawah. Perjalanan yang seolah tak berujung itu saya gambarkan seperti perjalanan Frodo melewati Emyn Muil ke Mordor dan menuruni Doom Creek di Orodruin. Berbatu, terjal, berasap pekat, dan penuh bahaya. Hehe… (Maafkan fantasi LOTR saya yang berlebihan ini).

Sampai di dasar kawah, terlihat kobaran si Api Biru / Blue Fire itu menjilat-jilat setinggi kurang lebih 5m ke udara. Sungguh maha dahsyat alam ciptaan Tuhan. Ternyata api biru tak hanya ada di kompor Ibu di rumah, di kawah Ijen ini, fenomena alam Blue Fire merupakan yang terbesar di dunia. Banyak peneliti, fotografer, dan pecinta alam berbondong-bondong kesini untuk menyaksikan fenomena alam tersebut. Kami bertahan selama kurang lebih 15 menit di dasar kawah untuk mencoba mengambil foto Blue Fire. Namun angin bertiup tak menentu mengakibatkan dasar kawah dipenuhi asap belerang pekat yang menyebar dengan cepat. Kami pun diinstruksikan untuk cepat-cepat kembali ke atas. Mendaki bibir kawah memerlukan tenaga ekstra dan ketajaman mata. Salah-salah menapak, bisa terpeleset dan berakhir fatal. Sungguh saya seolah merasakan perjuangan Frodo dan Sam Gamgee dalam misi mereka memusnahkan The One Ring! Hehe… :D

Travelustory

"Life is too short... So live it to the fullest, do what you want to do, no matter the consequences and just enjoy the time while it last!!"

"She writes her travel stories to share and inspire people to be brave and eager to travel. The world is too big for you to just stay in one place. Go out and explore!"

Logo Kecil Travelust

©2018 travelustory Designed by KominBanana. All Rights Reserved

Jl. Uluwatu, No.02, Kelan - Tuban-Bali
Email: admin@travelustory.id