Let's join to open trip program
pendaki wanita indonesia

Travelustory

GO OUT & EXPLORE!

People getting engaged, married, and having babies
I'm like... What places I'am going to the next?

Holland From Top to Toe

Selama 365 hari alias satu tahun sudah saya tinggal di Negeri Kincir Angin Belanda, yang kemudian belakangan sering saya plesetkan sebagai Negara Angin Gede atau kadang Negara Kipas Angin. Lantaran tingkat kecepatan angin nya yang luar biasa hingga mampu mempensiunkan kamera digital saya yang bertengger manis diatas tripod! Tak hanya kamera yang RIP, juga 3 buah payung saya pun semuanya 'njepat' tak berdaya ditiup angin Belanda. Well, tak heran memang negara ini famous dengan kincir-kincir anginnya. Selain Negara Angin Gede, saya juga iseng-iseng menyebutnya Negara Super Rata, lantaran kontur daratan Belanda yang memang sangat rata dan nyaman banget untuk bersepeda. Seperti kita tahu, sebagian besar dataran Belanda berada di bawah permukaan laut. Negara artificial ini terkenal dengan teknologi dam/bendungan nya yang super canggih, sehingga mampu membendung air laut di sekeliling negaranya, dan menjaga datarannya tetap kering. Saya suka sekali naik kereta di Belanda dan melalui beberapa kota, karena pemandangan sepanjang perjalanan sangat cantik dan memanjakan mata.

Mulai dari hamparan padang rumput dengan sekelompok sapi atau kuda dan domba, hamparan kebun gandum dan jagung, hutan dengan pepohonan empat musim, serta jejeran rumah-rumah kecil beratap runcing khas Belanda. Saya bisa menghabiskan waktu seharian hanya dengan duduk di kereta menuju kota-kota kecil di pinggiran Belanda. Tak terbayangkan bahwa negara ini, monarki ini, dulunya pernah punya sejarah pahit dengan Indonesia. Penjajahan kolonialisme selama 3,5 abad di negara Indonesia tercinta telah menorehkan sejarah yang kurang enak dikenang, baik oleh kita warga negara Indonesia sendiri maupun oleh warga Belanda. Mereka mengklaim bahwa mereka tidak bangga dan bahkan sedih jika mengingat sejarah tersebut. Namun karena sejarah itu pula lah kini di Belanda banyak kita temukan orang-orang Indonesia, baik yang tulen maupun keturunan, tinggal dan beranak pinak di negara bekas penjajah tersebut. Tak hanya orang-orangnya, namun juga pengaruh budaya dan kuliner kental mewarnai Belanda masa kini. Makanan Indonesia terkenal enak di kalangan warga Belanda. Sering mereka selalu menyebut "Indonesia, hmmm lekker eten!" yang artinya makanan enak!.

Begitu pula dengan menjamurnya resto masakan Indonesia di berbagai kota, yang biasanya dimiliki dan dikelola oleh orang Indonesia, juga banyak supermarket yang menjual bahan-bahan makanan Indonesia. Jadi jangan khawatir jika kangen masakan Indonesia, kita bisa dengan mudah datang ke resto Indonesia atau bisa juga masak sendiri, seperti yang selalu saya lakukan selama tinggal disini. Berhubung makan di resto tergolong mahal, jadi saya prefer masak sendiri. Dan disini pulalah akhirnya saya belajar masak rendang, soto, gado-gado, rica-rica, dll. Bahan-bahan bisa didapatkan di toko China atau toko Indonesia. Toko China lengkap adalah Toko Wah Nam Hong, ada di Den Haag, Rotterdam, dan Utrecht. Indomie, Teh Botol Sosro, Sambal ABC, Kecap Bango, bahkan Tolak Angin pun bisa dengan mudah didapat di toko ini.

Pengaruh budaya Indonesia di Belanda bisa dilihat dari event-event kebudayaan yang sering digelar di Belanda. Contohnya event Pasar Malam Indonesia dan Tong-Tong Fair, yang keduanya secara rutin diselenggarakan tiap tahun di Den Haag sekitar bulan Maret-Mei. Event ini layaknya sebuah pasar malam atau pameran, yang isinya tentu kuliner nusantara, pertunjukan kesenian dan kebudayaan, serta stand-stand kerajianan khas nusantara. Selain itu, beberapa museum di Belanda juga dengan gamblang memaparkan kebudayaan Indonesia. Salah satu contohnya adalah ketika saya berkunjung ke Museum Volkenkunde di Leiden pada bulan Mei lalu. Di museum ini ada section atau ruangan yang isinya berbagai benda-benda seni Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua. Bangga rasanya menyaksikan kekayaan nusantara dipajang dan dipamerkan disini, di negara bekas penjajah nusantara. Namun di saat yang sama, saya pun sedikit merasa malu, karena bahkan saya sendiri yang seorang Warga Negara Indonesia, tidak memiliki pengetahuan yang luas akan kebudayaan bangsa saya sendiri. Di museum ini, saya mencoba bermain gamelan bersama para pengunjung lainnya, yang notabene kebanyakan warga lokal. Ironis memang, malah di negara lain saya belajar tentang kebudayaan bangsa saya sendiri! Jika ditanya, mana kota favorit saya di Belanda.... well, saya bingung jawabnya! Mari kita bahas satu persatu.

(Nantikan kisah-kisah Holland From Top to Toe selengkapnya dalam sebuah karya tulisku.)

Travelustory

"Life is too short... So live it to the fullest, do what you want to do, no matter the consequences and just enjoy the time while it last!!"

"She writes her travel stories to share and inspire people to be brave and eager to travel. The world is too big for you to just stay in one place. Go out and explore!"

Logo Kecil Travelust

©2018 travelustory Designed by KominBanana. All Rights Reserved

Jl. Uluwatu, No.02, Kelan - Tuban-Bali
Email: admin@travelustory.id