Let's join to open trip program
pendaki wanita indonesia

Travelustory

GO OUT & EXPLORE!

People getting engaged, married, and having babies
I'm like... What places I'am going to the next?

France-Paris

Petualanganku kali ini (masih) dengan gaya backpacking, yang menerapkan filosofi "kalau bisa gratis atau murah, kenapa harus pilih yang mahal?". Mulai dari Walking Tour hingga akomodasi menginap selama 2 malam, aku dapatkan secara cuma-cuma (baca: Postingan sebelumnya). Diawali dari stasiun kereta Gare Montparnasse tempatku menitipkan backpack di loker, aku mulai membuka peta tua Paris ku. Kenapa tua? Ya karena itu adalah peta terbitan lama dari Vayatour (kantorku) yang tanpa sengaja aku temukan sekitar hampir dua tahun lalu di lemari rongsokan, tanpa tahu akhirnya akan terpakai juga - dua tahun kemudian. Menyusuri dinginnya pagi di Boulevard du Montparnasse, sambil mendongak kearah si gedung hitam yang menjulang setinggi 210m didepan stasiun. Ya, Montparnasse Tower adalah gedung tertinggi di Perancis dan merupakan tertinggi kesembilan di Uni Eropa. Gedung ini menawarkan indahnya panoramic view 360' kota Paris termasuk si cantik Eiffel, dengan tiket masuk sebesar €13 untuk dewasa. Namun kali ini aku tidak masuk ke Montparnasse, karena aku ingin merasakan naik ke puncak Eiffel terlebih dahulu dalam kunjungan pertamaku ke Paris ini. Mungkin lain kali jika aku kembali kesini, aku akan mencobanya. Dari Boulevard du Montparnasse aku menuju ke Jardin du Luxembourg. Konon katanya taman-taman di Paris akan sangat indah pada musim semi, dimana hamparan bunga warna-warni memenuhi taman. Namun karena saat ini musim gugur, yang aku temukan di Jardin du Luxembourg hanya pepohonan yang mulai menguning dan daun-daun mati yang berserakan. Hmmm... tak begitu menarik disini, hanya mengambil beberapa foto didepan Palais du Luxembourg.

Dinginnya udara pagi musim gugur membuat perut berteriak minta disiram segelas kopi panas. Jadilah aku mencari-cari Rue Soufflot yang katanya banyak terdapat cafe murah disepanjang jalannya. Dan benar saja, aku menemukan sebuah cafe kecil yang menjual Formule untuk sarapan seharga hanya €2, terdiri dari segelas Cappucino dan Pain au Chocolat. Di cafe-cafe Perancis sini banyak aku lihat menu paketan yang dinamakan Formule. Mulai dari Formule 1, 2, dst. Mungkin artinya kurang lebih Paket kali ya. Sambil mengunyah croissant coklat hangat aku melangkahkan kaki menuju Pantheon, sebuah bangunan cantik yang berfungsi sebagai tempat kremasi dan rumah abu bagi tokoh-tokoh terkenal ataupun pahlawan Perancis. Banyak nama-nama orang besar yang telah dikremasikan disini, sebut saja Voltaire, Jean-Jacques Rousseau, Victor Hugo, hingga sang arsitek Pantheon itu sendiri Jacques-Germain Soufflot. Sayangnya aku tidak bisa masuk hari itu, karena aku datang terlalu pagi. Pantheon buka setiap hari jam 10:00-16:00, dengan admission fee €7.

(Nantikan kisah-kisah France-Paris selanjutnya dalam sebuah karya tulisku.)

Travelustory

"Life is too short... So live it to the fullest, do what you want to do, no matter the consequences and just enjoy the time while it last!!"

"She writes her travel stories to share and inspire people to be brave and eager to travel. The world is too big for you to just stay in one place. Go out and explore!"

Logo Kecil Travelust

©2018 travelustory Designed by KominBanana. All Rights Reserved

Jl. Uluwatu, No.02, Kelan - Tuban-Bali
Email: admin@travelustory.id